Category: Editor’s Pick

Ada cerita di balik MRT Jakarta

Tidak seperti kota-kota besar lainnya di dunia, Jakarta tidak punya daya tarik khusus yang bisa menjadikannya sebagai tujuan utama bagi para wisatawan asing. Kecuali ada agenda bisnis untuk dilakukan di Jakarta, banyak turis asing yang hanya sempat melihat bandara, sebelum pada akhirnya melanjutkan perjalanan ke kota lain di negara ini.

Kenapa begitu? salah satunya karena kemacetan lalu lintas Jakarta yang sangat terkenal, ditambah jaringan transportasi umum yang membingungkan dan kurang bisa diandalkan. Tidak heran jika hanya sedikit orang asing yang ingin menghabiskan waktunya di Jakarta.

Namun hal tersebut bisa jadi berubah seiring dengan peluncuran MRT pada bulan Maret ini. Sebuah sistem kereta cepat massal pertama yang kehadirannya sudah lama ditunggu-tunggu oleh banyak orang.

Saat dilakukan tes uji coba pada 30 Januari lalu, wartawan diberikan kesempatan untuk mencoba MRT dengan perjalanan bolak-balik antara bundaran Hotel Indonesia di Jakarta Pusat ke Lebak Bulus di Jakarta Selatan. Kereta berjalan tepat waktu selama 30 menit dengan pemberhentian selama 30 detik di stasiun bawah tanah dan stasiun atas yang keseluruhannya berjumlah total 13 stasiun.

“Kami melakukan pengujian dengan skenario keberangkatan terlambat di salah satu halte, serta bagaimana sistem bisa mengejar waktunya supaya semua jadwal kereta akhirnya bisa berjalan normal,” ujar Direktur Utama PT. MRT Jakarta, William Sabandar, dalam perjalanan tersebut.

Pada 25 Januari, pembangunan jalur MRT sudah selesai 99 persen dan perusahaan kemudian menjalankan pengujian secara terintegrasi. Delapan kereta dijalankan secara bersamaan dengan interval 10 menit untuk menguji ketepatan waktu operasi normal, juga untuk memastikan bahwa pintu platform bekerja sesuai dengan keberangkatan dan kedatangan kereta api.

Pada akhir Februari, perusahaan melakukan uji coba penuh bersama dengan simulasi untuk situasi darurat hingga 11 Maret. Uji coba tersebut terbuka untuk partisipasi publik terbatas, sebelum akhirnya layanan penuh perdana diluncurkan pada akhir bulan Maret.

Muhammad Kamaluddin, kepala strategi perusahaan MRT Jakarta mengatakan, selama operasi awal enam kereta latih yang dibangun oleh Nippon Sharyo dan Sumitomo Corp dari Jepang tersebut akan mampu mengangkut hingga maksimum 1.900 penumpang. Jam operasional MRT akan dimulai sejak 5.30 pagi setiap harinya, dengan keberangkatan dari kedua ujung jalur, serta keberangkatan terakhir sampai 10.30 malam.

Terdapat beberapa gerbong kereta yang didedikasikan khusus untuk penyandang disabilitas, dimana gerbong tersebut akan berhenti sangat dekat dengan lift di stasiun. Selain itu, juga akan ada petugas yang ditunjuk secara khusus untuk melayani penumpang wanita di jam-jam sibuk.

“Secara bertahap kita akan meningkatkan jumlah kereta menjadi 14. Kereta akan berjalan dengan kecepatan 30 kilometer per jam untuk perjalanan sejauh 16 kilometer,” tambah Kamaluddin.

Pengerjaan tahap kedua untuk memperluas jalur MRT ke bagian utara kota juga akan segera dimulai, dimana konstruksi diharapkan akan selesai pada 2024 dan operasionalnya akan dimulai pada 2025.

“Kami masih dalam persiapan. Peletakan batu pertama bisa berlangsung kapan saja, tetapi tidak ada yang menghambat atau menunda pembangunan fase kedua, semua berjalan sesuai rencana,” kata William Sabandar.

Fase kedua akan memperpanjang jalur dari bundaran hotel Indonesia ke Kampung Bandan di Jakarta Utara dan setelah selesai akan menjadi jalur lengkap yang terentang dari ujung selatan ke ujung utara Jakarta.

“Kami menetapkan target untuk menyelesaikan proyek tersebut dalam lima tahun,” kata Kamaluddin, sambil menambahkan bahwa delapan stasiun di jalur kedua akan berada di bawah tanah dan beberapa akan diintegrasikan dengan jaringan bus Transjakarta milik pemda DKI. Tapi pembangunan untuk tahap kedua tersebut akan menemui sedikit kesulitan karena harus melewati Monumen Nasional atau daerah Monas, yang disebut sebagai daerah ring satu di Jakarta Pusat, dimana istana presiden dan kantor-kantor pemerintahan berada.

Januar Wibisono, seorang pekerja yang berkantor di salah satu gedung di kawasan bisnis Sudirman-Thamrin di mana jalur MRT beroperasi di bawah tanah, mengatakan dia bersemangat untuk mencoba layanan ini dan berharap MRT akan membuat perjalanan hariannya dari sebuah lokasi di pinggiran selatan Jakarta jauh lebih mudah. ​​

“Gedung kantor saya berada di dekat stasiun Bendungan Hilir. Saya akan memarkir motor saya di dekat stasiun Lebak Bulus dan naik kereta dari sana. Jika total 30 menit hingga akhir jalur, saya perkirakan akan membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai ke tujuan saya,” katanya.

Stasiun Bendungan Hilir adalah salah satu dari enam stasiun bawah tanah di area bisnis, yang dimulai dari stasiun Sisingamangaraja. PT MRT Jakarta menawarkan sponsorship untuk hak memberikan nama bagi setiap stasiun sesuai dengan nama asli stasiun, dalam upaya menghasilkan pendapatan diluar tarif. “Tapi stasiun Sisingamangaraja akan menjadi pengecualian. Stasiun itu akan diberi nama Sisingamangaraja Asean untuk menandai gedung Sekretariat Asean di dekat stasiun,” kata Sabandar.

Bersama dengan sistem light rail transit (LRT) yang diperkirakan akan mulai beroperasi tahun ini, diharapkan dapat menggeser orang dari pemakaian kendaraan pribadi ke transportasi umum, sehingga akhirnya dapat mengurangi kemacetan lalu lintas di Jakarta. Di beberapa lokasi, moda transportasi umum akan melintasi jalur stasiun terintegrasi, seperti stasiun Dukuh Atas di Jakarta Pusat, yang terintegrasi dengan kereta api bandara, kereta komuter, dan bus reguler, juga Transjakarta.

Jalan-jalan di Jakarta tersumbat melebihi kapasitas karena terjadi peningkatan pertumbuhan sepeda motor yang dipicu oleh mudahnya mendapatkan kredit motor serta hadirnya aplikasi ojek online. Menurut data dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, kemacetan di Jabodetabek diperkirakan menyebabkan kerugian ekonomi sebesar 100 triliun rupiah per tahun.

Untuk mendukung peralihan ke MRT, pemerintah kota DKI juga telah memperbaiki trotoarnya yang tidak rata agar mendorong lebih banyak pejalan kaki dan memungkinkan penumpang yang keluar dari stasiun berjalan kaki ke tujuan mereka.

Jakarta juga dijuluki sebagai salah satu kota yang paling tidak ramah bagi pejalan kaki. Menurut hasil sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Stanford yang diterbitkan pada tahun 2017, orang Indonesia termasuk dalam kategori pejalan kaki paling malas di dunia dengan rata-rata 3.513 langkah setiap harinya, dibandingkan rata-rata di seluruh dunia, yaitu 5.000 langkah.

“Saya sudah menyerah nyetir mobil kalau bepergian sehari-hari sekitar 15 tahun yang lalu, karena saya benar-benar tidak tahan dengan kemacetan,” kata Rani Cahyawati, seorang karyawan yang bekerja di kantor dekat bundaran Hotel Indonesia.

“Setiap hari saya mengandalkan apa saja yang ada, baik itu bus kotor, bus tua, bus Transjakarta, taksi, atau ojek. Jadi, saya benar-benar menantikan MRT dan LRT untuk beroperasi. Sudah waktunya bagi Jakarta untuk dimodernisasi dan lebih beradab bagi masyarakat dan pengunjungnya,” tambahnya.

*Pertama kali diterbitkan dalam versi bahasa Inggris di Bangkok Post

Advertisements