Tag: Pemilu 2019

Pemilu serentak 2019: ujian bagi demokrasi Indonesia?

Sampai saat opini ini ditulis, sudah puluhan orang yang terlibat dalam pelaksanaan pemilu 2019 meninggal dunia. Mereka adalah anggota KPPS maupun POLRI yang kabarnya didera oleh kelelahan karena harus bekerja secara simultan menghitung hasil suara dan mengamankan jalannya pemilu yang disebut sebagai “paling rumit di seluruh dunia” ini.

Kabar duka tersebut sungguh membuat kita terhenyak dan prihatin. Puluhan orang meninggal bukan dalam konflik atau kekerasan, melainkan justru dalam sebuah pemilu yang berlangsung relatif damai. Mengapa bisa sampai demikian? Apakah ini sesuatu yang normal dan layak dianggap sepadan?

Saya kira Komisi Pemilihan Umum (KPU) pun tidak menyangka bahwa pemilihan yang awalnya dirancang untuk menghemat biaya dan waktu dengan cara menggabungkan pemilihan legislatif dan presiden secara bersamaan, justru akan memakan banyak korban karena proses penghitungan yang sangat lama, mengingat 190 juta lebih pemilih harus mencoblos lima surat suara sekaligus.

Seingat saya, dalam persiapannya KPU hanya melakukan simulasi tentang berapa lama waktu yang diperlukan bagi setiap pemilih untuk mencoblos di setiap bilik, yaitu sekitar lima menit. Sepertinya KPU tidak melakukan simulasi berapa lama setiap TPS akan menghitung surat suara yang sudah dicoblos tersebut.

Jika minimal ada 190 juta pemilih pada pemilu kemarin, maka setidaknya ada 950 juta lembar surat suara yang harus dihitung! Untuk kemudian dibuat rekapitulasi dalam bentuk formulir C1, dan sesudahnya harus dikawal sampai hasilnya bisa dihitung oleh KPU pusat.

Bayangkan betapa lelahnya para petugas KPPS.

Beberapa teman yang membantu di TPS mengatakan bahwa mereka bekerja dari pagi sampai pagi lagi agar bisa menyelesaikan tugasnya. Sungguh luar biasa dedikasi dan pengorbanan mereka bagi kelanjutan demokrasi Indonesia.

Kejadian ini harus menjadi perhatian khusus dan evaluasi bagi KPU, apakah pemilihan legislatif dan presiden selanjutnya akan kembali digabung? karena sesungguhnya, satu nyawa pun tidak boleh menjadi korban untuk suatu hal yang seharusnya bisa diperkirakan sebelumnya.

Peserta pemilu dan Pertaruhan Demokrasi Indonesia

Pemilihan presiden 2019 merupakan kilas balik pemilu 2014, baik pesertanya maupun yang terjadi sesudahnya. Kita semuanya seperti mengalami de já vu.

Seperti yang diperkirakan oleh beberapa lembaga hitung cepat, petahana Presiden Joko Widodo diperkirakan menang dengan kisaran suara 55%, sementara Prabowo Subianto mendapatkan sekitar 45%. Hasil ini sebenarnya sebuah peningkatan, karena ketika memenangkan pemilihan presiden 2014, Jokowi hanya mendapatkan 53,15% suara.

Seperti pada tahun 2014, Prabowo yang saat itu berpasangan dengan Hatta Rajasa juga melakukan klaim kemenangan yang disertai dengan sujud syukur. Pada pemilu kali ini, Prabowo bahkan sampai melakukan tiga kali pidato kemenangan, dengan klaim telah meraih 62% suara.

Yang mengkhawatirkan pada pemilu 2019 adalah semakin menguatnya isu SARA, penyebaran kabar bohong (hoax) dan kemungkinan konflik akibat pengerahan massa (people power) atas klaim kecurangan pemilu.

Seperti sebuah pra-kondisi sebelum pelaksanaan pemilu 17 April, narasi bahwa pemilu akan diwarnai dengan kecurangan sudah dimunculkan ke publik. Dimulai dengan kabar hoax tentang tujuh kontainer surat suara yang sudah dicoblos, disusul dengan beredarnya video surat suara yang dicoblos untuk Jokowi di Malaysia, sampai ancaman untuk pengerahan people power dari politisi senior Amien Rais.

Sebagai jawaban, panglima TNI memberikan warning cukup keras kepada publik, bahwa pengacau pemilu yang disebutnya akan “mengancam jalannya demokrasi” akan berhadapan langsung dengan kekuatan TNI.

Prabowo yang sudah tiga kali menjadi peserta aktif pemilu sepertinya sudah “sangat geram” dengan kompilasi situasi politik yang dilaluinya sejak 1998. Ketika gelombang gerakan yang menuntut terjadinya pergantian pemimpin nasional akhirnya berhasil menurunkan Presiden Suharto (yang juga mantan mertuanya), karir militernya terhenti akibat tuduhan penculikan aktivis pro-demokrasi sehingga ia harus pindah ke Yordania memulai hidup baru sebagai pebisnis.

Pada pemilu 2009, Prabowo maju sebagai calon wakil presiden Megawati Soekarnoputri, dimana terdapat sebuah perjanjian antara keduanya bahwa pada pemilu 2014, Megawati akan ganti mendukungnya maju dalam pilpres sebagai calon presiden.

Namun seperti yang kita semua ketahui, alih-alih mendukung Prabowo maju sebagai capres pada pilpres 2014, Megawati justru memunculkan Joko Widodo (yang sering disebutnya sebagai “petugas partai”), dimana ironisnya pada pemilihan gubernur Jakarta 2012 lalu, Jokowi berhasil terpilih setelah dibiayai oleh Prabowo.

Saking geramnya dengan tikung menikung dalam dunia perpolitikan, dalam berbagai sesi kampanye-nya Prabowo sering menghujat “elite politik Jakarta” yang bahkan disebutnya sebagai bajingan.

Kegeraman Prabowo yang sudah berkali-kali gagal dalam pemilu selama satu dekade terakhir ini, sepertinya bisa saja berakhir tragis karena “bersambut gayung” dengan gerakan lain yang juga kesal dengan pemerintahan Jokowi selama hampir lima tahun terakhir ini.

Seperti kita ketahui, bendera hitam yang identik dengan lambang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sering berkibar dengan bebas di kampanye Prabowo, walaupun telah dilarang keberadaannya sebagai sebuah organisasi di Indonesia. Pasca pelarangan HTI, Jokowi sering disebut sebagai “pemimpin anti Islam”, sehingga pendukung dan gerakan yang menonjolkan identitas Islam yang makin menguat mengambil posisi di kubu Prabowo.

Dalam kampanye akbar terakhir sebelum pemilu (7/4) di Gelora Bung Karno, mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berada dalam barisan partai politik pendukung Prabowo juga dikabarkan tidak setuju dengan konsep kampanye Prabowo yang disebut sebagai “terlalu eksklusif” dan tak lazim, dimana kampanye tersebut dimulai dengan sholat berjamaah pendukung yang memenuhi GBK, dilanjutkan dengan zikir dan shalawat.

Koleksi kegeraman Prabowo terhadap sekumpulan elite yang disebutnya sebagai bajingan, ditambah dengan dorongan kelompok Islam yang juga merasa dizalimi oleh pemerintahan Jokowi, semoga tidak berlanjut dalam bentuk people power. Walaupun selama 21 tahun kita sudah memilih jalur demokrasi dan melaksanakan reformasi, ingatan akan sejarah kelam 1998 sepertinya masih sangat lekat, sehingga setiap ada pihak yang menyebut “people power”, otomatis ingatan kita menuju pada memori 1998.

Mungkin dalam sejarah pemilihan umum di Indonesia, tidak ada satupun pemilu yang diawasi dengan sangat ketat oleh masyarakat secara langsung seperti pemilu 2019 ini. Media sosial penuh dengan kekhawatiran akan kecurangan, sehingga foto formulir C1 bertebaran dimana-mana. Bahkan selisih suara di beberapa TPS pun membuat KPU harus segera mengakui dan memperbaiki, karena kredibilitas KPU sebagai penyelenggara pemilu yang sedari awal sering dituduh berpihak, akan menjadi taruhannya.

Pemilu 2019 akan menjadi sebuah ujian: apakah Indonesia sebagai bangsa telah semakin dewasa dan matang dalam berdemokrasi? Apakah kecurangan, ketidakpuasan, dan sebagainya dapat diselesaikan secara konstitusional dan bermartabat?

Hari-hari ini, sampai dengan dilakukannya evaluasi pelaksanaan dan diumumkannya hasil resmi pemilu oleh KPU secara aman dan damai, akan menjadi sebuah catatan dalam sejarah demokrasi Indonesia.

Apakah kita akan maju, atau malah mundur?

Advertisements