Tag: pilpres 2019

Jokowi Lebih Favorit, tapi Prabowo Menempel Ketat

Presiden Joko Widodo agaknya sedang dalam suasana hati yang agresif selama kampanye belakangan ini. Ia sepertinya ingin menumpahkan perasaanya menjelang pemilihan presiden yang tinggal beberapa hari ini.

“Saya sudah difitnah, dituduh, dan direndahkan, dan saya selama ini diam,” katanya dalam sebuah kampanye di Yogyakarta beberapa waktu lalu.

“Tapi hari ini, saya katakan, saya akan melawan!” Katanya di depan pendukungnya yang menyambut dengan sorak-sorai dan teriakan terhadap ajakan tersebut. Jokowi menyebutkan berbagai tuduhan dari para pengkritiknya bahwa ia anti-Muslim, dan bahkan akan melarang azan jika terpilih lagi untuk masa jabatan lima tahun kedua setelah pemilihan 17 April nanti.

Sebenarnya cukup wajar jika Presiden Jokowi khawatir.

Berbagai jajak pendapat mendekati pemilu serentak kurang dari seminggu ini menunjukkan bahwa lawannya, mantan jenderal Prabowo Subianto, justru semakin menguat.

Survei jajak pendapat yang dilakukan oleh Litbang Kompas menghentak publik setelah memaparkan bahwa Jokowi kemungkinan akan menang dengan suara hanya 49,2 persen, sementara Prabowo meraih 37,4 persen. Sekitar 13 persen responden menyatakan belum memutuskan atau tidak menjawab.

Pasal 6A Ayat (3) UUD 1945 menyebutkan ”Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang mendapatkan suara lebih dari lima puluh persen dari jumlah suara dalam pemilihan umum dengan sedikitnya dua puluh persen suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia, dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden”.

Survey Kompas tersebut menjadi semacam panggilan “untuk bangun” bagi Jokowi, yang selama ini sangat percaya diri karena memiliki keunggulan suara hampir 20 persen pada Oktober 2018. Padahal, untuk bisa memenangkan pilpres sesuai dengan amanat undang-undang, ia perlu lebih dari 50 persen suara.

Berbagai analis mengatakan, dengan trend yang ada dari berbagai survey yang sudah dipublikasikan, Jokowi kemungkinan besar akan terpilih kembali, tetapi Prabowo masih bisa memberikan kejutan.

“Apapun bisa terjadi selama masa periode kampanye yang tersisa,” kata Adi Prayitno, seorang analis politik di Universitas Islam Syarif Hidayatullah di Jakarta. “Survei Kompas menunjukkan bahwa selisih suara sudah menyempit dan ini harus menjadi perhatian bagi Jokowi,” katanya.

Prabowo, mantan komandan pasukan khusus TNI yang kemudian menjadi pengusaha, sering mengangkat tema kemiskinan dalam setiap kampanye yang dilakukannya.

Pada kampanye di Papua beberapa waktu lalu, ia kembali melancarkaan kritik keras kepada “elit Jakarta” yang katanya telah gagal membawa kesejahteraan bagi rakyat.

“Elite hanya peduli dengan kepentingan mereka sendiri,” kata Prabowo di hadapan banyak pendukung yang meneriakkan namanya. “Satu-satunya motif mereka adalah untuk memperkaya diri sendiri dan kerabat mereka.” katanya.

Sementara itu, Jokowi selalu mengangkat keberhasilan dalam memperbaiki infrastruktur negara dengan membangun jalan, pelabuhan, bandara, dan bendungan baru.

Akan tetapi, kubu Prabowo menuduh pemerintah telah gagal menggenjot perekonomian yang saat ini tumbuh sebesar lima persen per tahun, serta memiliki kecenderungan untuk berhutang yang sering dijadikan sebagai bahan untuk menyerang kebijakannya.

Pada kampanye presiden 2014, Jokowi berjanji untuk membawa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada level tujuh persen.

Indonesia juga tengah berjuang untuk memperbaiki defisit neraca berjalan yang makin melebar serta nilai mata uang yang lemah, dimana pada bulan September 2018 pernah jatuh ke level terendah sejak krisis keuangan Asia 1997-1998.

Pemilu 17 April 2019 adalah sebuah episode pengulangan dari pemilu 2014, dimana Jokowi berhasil mengalahkan Prabowo dengan selisih angka yang tipis setelah kampanye yang memecah-belah masyarakat, termasuk tuduhan bahwa Jokowi adalah seorang komunis dan etnis Tionghoa.

Pemilu tahun ini akan dilaksanalan bersamaan dengan pemilihan anggota legislatif, yang diperebutkan oleh 16 partai nasional. Hampir 250.000 kandidat bersaing untuk mendapatkan lebih dari 20.000 kursi di parlemen nasional, provinsi dan kota.

Sekitar 193 juta orang, termasuk 80 juta orang yang lahir setelah tahun 1980 (generasi milenial) berhak memilih. Menurut Komisi Pemilihan Umum (KPU), hal ini menjadikan pemilihan 2019 sebagai pemilihan langsung terbesar di dunia, dimana akan ada sekitar 800.000 TPS dan enam juta orang yang terlibat.

Jokowi memilih Ma’ruf Amin, seorang ulama Muslim konservatif dan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai calon wakil presidennya, sebuah langkah politik yang disebut banyak pengamat sebagai upaya untuk menangkis tuduhan bahwa ia kurang Islami.

Institut Analisis Kebijakan Konflik (IPAC) menyatakan dalam sebuah laporan yang dirilis belum lama ini, nampaknya kelompok Muslim konservatif sudah bertekad agar Jokowi tidak terpilih kembali dengan menggalang dukungan di sekitar Prabowo.

“Kelompok Muslim memiliki dampak besar sehingga memaksa Jokowi untuk membela diri dari tuduhan bahwa ia anti-Islam dan anti orang miskin dengan melakukan tindakan-tindakan yang justru membuat definisi moderat menjadi terlalu ke kanan,” kata laporan itu.

“Dukungan mereka untuk [Prabowo] bersyarat dan setengah hati, tetapi langkah-langkah yang diambil oleh pemerintahan Jokowi untuk mencoba melemahkan, mengkooptasi dan menstigma mereka sebagai ekstremis justru malah memperkuat sebuah aliansi yang sebenarnya rapuh,” tambahnya.

Advertisements